Mimpi Itu Celah Pelepasan Energi

Minggu, 12 Juli 2020

Men that get star . Mixed media

Pikun. Itu komentar banyak orang ketika Franklin D. Roosevelt merencanakan memproduksi 30.000 pesawat tempur saat Perang Dunia Kedua. Padahal, industri militer Amerika saat itu hanya mampu memproduksi maksimal 400 buah. Kenyataannya, mereka akhirnya memproduksi 50.000 pesawat tempur.

Cerita itu selalu meyakinkan kita bahwa mimpi besar yang menyerupai utopia adalah apa yang sangat kita butuhkan di tengah krisis. Itu yang akan menjadi celah pelepasan energi kolektif kita. Sebab, krisis bisa melumpuhkan pertahanan jiwa dan mematikan proses kreativitas kita.

Mencari solusi dari krisis tidak akan menghasilkan sesuatu jika pikiran dan jiwa kita lumpuh. Realitas yang hitam pekat harus dilawan dengan mimpi besar yang terang benderang. Di antara ruang realitas yang sempit dengan imajinasi yang lapang, ada celah yang secara diam-diam mengalirkan energi kita. Itu membuat kita merasa berdaya, kuat dan percaya diri. Dan seketika semua situasi akan tampak berbeda sama sekali.

Janji pembebasan Romawi dan Persia juga diucapkan Rasulullah SAW saat kaum Muslimin justru terkepung dalam Perang Khandak. Bukan dalam sebuah obrolan santai di beranda Masjid Madinah. Mimpi itu melepas energi mereka dan seketika mereka meledak. Lalu menang besar.

Itu sebabnya mimpi menjadikan Indonesia 5 besar dunia adalah cara melepas energi kolektif kita sebagai bangsa, lalu meledakkannya dalam pencapaian besar. Tak akan ada yang bisa kita capai tanpa mimpi besar. Itu mungkin tampak seperti utopia. Tapi, itulah cerita masa depan kita.

Profil

Muhammad Anis Matta (lahir di Welado, Bone, Sulawesi Selatan, 7 Desember 1968) adalah politikus Indonesia yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat.

Sisi Lain